oleh

Mursalin: Petahana Itu Harusnya Memaparkan Hasil Bukan Justru Membuat Janji Baru

Like and share:

MUNA_ Pasangan calon Bupati dan calon wakil Bupati Drs Laode M Rajiun Tumada dan H. La Pili S.pd periode 2021-2026 yang berakronim RAPI hari ini bersilaturahmi di desa Lasunapa kecamatan Duruka, banyak masyarakat memadati jalan yang hendak menjemput kedatangan Paslon RaPi sebagai dukungan dan harapan mereka, Selasa 27 Oktober 2020.

Dalam kunjungan itu tampak dihadiri oleh ketua-ketua partai pengusung dan pendukung, namun yang paling menarik perhatian masyarakat selain Paslon adalah turut hadirnya orang yang ditokohkan di kabupaten Muna yaitu La Ode. Rifai Pedansa.

Pada proses penjemputan itu, Rajiun Tumada dan H. La Pili diberikan pengalungan bunga oleh masyarakat desa Lasunapa, namun yang paling membuat penjemputan makin ramai dan histeris adalah saat calon kebanggaan mereka Rajiun Tumada turut memainkan budaya Muna “Ewa Wuna”.

Ditengah pertemuan itu, Mursalin salah satu tokoh desa Lasunapa sekaligus tuan rumah mengatakan kita sebagai masyarakat jangan mau ditakuti apalagi diancam dengan isu akan dihapusnya Bantuan Langsung Tunai (BLT) atau Program Keluarga Harapan (PKH) nya. Ingat itu program pemerintah pusat, program presiden kita semua pak Jokowi bukan program pemerintah daerah, ucapnya dengan nada tegas.

Kita semua ini adalah calon pemimpin, jadi seorang pemimpin itu tidak boleh membohongi masyarakatnya bahkan untuk nama sekalipun, karena itu adalah kejahatan yang nyata, ungkapnya.

Saya mengutip ungkapan dari mereka, katanya masyarakat Muna ini sedang mencari pemimpin bukan mencari penguasa, takutnya sindiran atau ungkapan mereka itu adalah senjata makan tuan, tandasnya.

Lebih lanjut dikatakannya bahwa petahana itu harusnya memaparkan program kerja apa yang sudah tuntas dan apa yang belum tuntas dari janji-janjinya pada pemilihan 5 tahun lalu kalau memang ada yang ditepati, bukan justru membuat janji baru lagi untuk masyarakat, ungkapnya dengan nada kesal.

Sementara itu La Ode Ikhlas Muhammad selaku ketua Partai Amanat Nasional sebagai salah satu partai pengusung mengatakan bahwa dengan kehadiran orangtua kita tokoh masyarakat kabupaten Muna La Ode Rifai Pedanda, ini menggambarkan bahwa kekuatan kita semakin kokoh, kebersamaan kita semakin kuat untuk menggapai kemenangan pada 09 Desember nanti insyaAllah, pungkasnya.

Pilkada yang akan datang ini diikuti oleh 2 pasangan calon yang pertama adalah bupati Muna dan yang kedua adalah bupati Muna Barat (Mubar), kedua pemimpin ini mempunyai karakter yang sangat jauh berbeda, pertama lebih memilih mengeluarkan uang daerah bukan untuk kepentingan rakyat yang mendesak buktinya uang sebesar 30M dibuatkan timbunan Motewe dari tanah yang diambil dari gunungnya sendiri di Warangga sana, sedangkan kedua lebih mementingkan kondisi kesejahteraan masyarakatnya dibanding kantor-kantor megahnya didaerah otonomi baru itu, pungkasnya.

“Saya sengaja mendukung pasangan Rajiun dan H. La Pili karena pembuktiannya membangun daerah dalam jangka waktu beberapa tahun saja, sementara dipijak sebelah bergabung 2 mantan bupati, salah satunya adalah pak Dokter Baharudin, beliau adalah paman sekaligus ipar, tapi saya tidak mau bergabung dengan mereka karena itu sudah jelas membangun konspirasi membangun kekuasaan dinasti di kabupaten Muna, makanya saya mundur dan memilih bergabung bersama Rajiun Tumada,” ungkapnya.

H. La Pili selaku calon wakil bupati Muna juga mengatakan kurang lebih 42 hari lagi kita akan menentukan pilihan kita, memilih pemimpin yang tepat untuk kabupaten Muna yang lebih maju dan sejahtera. Kita semua tau bahwa terdapat dua pasang calon, yang disebelah sana disebut dengan petahana dan yang hadir didepan bapak/ibu sering disebut penantang banyak yang bilang penantang sejati/penantang aslinya La Ode M Rajiun Tumada dan La Pili adalah nama asli pemberian dari orang tua dan kami hargai itu tak pernah diganti-ganti, pungkasnya.

Pada 09 Desember nanti masyarakat Muna bukan sekedar untuk memilih bupati tetapi jauh lebih kepada bagaimana kabupaten Muna pada 5 tahun, 10 tahun bahkan 15 tahun yang akan datang, kita akan mempertaruhkan nasib daerah kita, nasib anak cucu kita nanti di daerah ini. Kita tidak anti kepribadian orang tapi kita lihat apa yang mereka perbuat selama kepemimpinan mereka Muna ini tidak mengalami kemajuan yang mampu bersaing dengan 4 pilar terbentuknya provinsi Sulawesi Tenggara ini, tutupnya