oleh

Nenek Moyangku Seorang Pelaut ” Suku Bajau (Bajo) Penakluk Samudera”

Oleh: Jhony Bajo

“Indonesia adalah negri 1000 pulau terdiri dari banyak suku, bahasa, bangsa dan budaya. lirik lagu “Nenek moyangku seorang pelaut”. Menunjukkan bahwa nenek moyang kita memang merupakan penakluk samudera di dunia. Lagu itu tentu masih teringat jelas dibenak kita bagaimana tidak, sejak menempuh pendidikan sekolah dasar lagu tersebut seringkali diperdengarkan pada semua anak bangsa. Lirik-lirik yang ada dalam lagu tersebut menyiratkan bahwa masyarakat Indonesia telah dikenal sebagai pelaut sejak dulu.

Pelaut perikanan adalah profesi yang menjadi salah satu mata pencaharian potensial yang dilakoni masyarakat Indonesia khususnya masyarakat suku bajau (bajo) yang banyak mendiami wilayah pulau dan pesisir yang tersebar hingga ujung negri merah putih tercinta.
Tanggal 25 Juni, adalah hari pelaut sedunia yang diperingati setiap tahunnya dengan harapan mampu memotivasi dan memberi semangat bagi pelaut hebat yang ada di Indonesia serta dapat lebih meningkatkan kesejahteraan kehidupan pelaut dan nelayan agar mendapat perhatian lebih dalam dari pihak pemerintah.

Sebaiknya bangsa kita lebih meningkatkan perhatian dan apresiasi yang baik untuk jerih payah pelaut terutama pelaut perikanan Indonesia. Kehidupan nelayan di tanah air kebanggaan ini hendaknya mendapat perhatian besar tentang persoalan bangsa yang harus memperoleh solusi penanganan terbaik terkait keluhan-keluhan yang membebani. Tingkat kesejahteraan hidup nelayan di negri ini masih kurang baik terkhusus pelaut-pelaut yang mendiami pulau-pulau kecil. Salah satu faktor yang menjadi problema besar dalam kehidupan nelayan adalah tingkat pendidikan. Sebagian besar nelayan Indonesia tidak menempuh pendidikan formal yang baik dengan jarak sekolah yang jauh bahkan harus menyebrangi lautan dengan melawan ombak yang cukup ganas setiap harinya.
Anak-anak yang lahir sebagai anak nelayan juga tak luput dari persoalan ini. Generasi muda harapan bangsa tersebut tak jarang menghabiskan waktu untuk membantu pekerjaan orang tua sebagai nelayan dan meninggalkan pendidikan. Sementara itu begitu besar peranan keterlibatan nelayan di tanah air memberi kebutuhan pokok masyarakat. Bayangkan saja bila tidak ada satupun nelayan yang melaut, sudah barang tentu semua elemen masyarakat tidak bisa memenuhi kebutuhan gizi terbaik dari hasil laut yang diperoleh dan memberi manfaat besar bagi kecerdasan otak para generasi bangsa dari makanan laut yang dikonsumsi setiap hari yang berhujung pada kemakmuran bangsa kita.
Peringatan Hari pelaut dunia sebenarnya akan lebih berarti jika pelaut perikanan lebih menyentuh juga bahkan jika perlu diberikan penghargaan kepada pelaut yang selama ini berdiam diri, yang sebagian besar tanpa disadari, dapat menjaga roda dunia terus berputar, hal-hal demikianlah yang kadang terlupakan. Bahkan banyak hal yang terjadi seperti tingkat kesejahteraan yang rendah pada keluarga pelayan sehingga tidaknya mampu membiayai pendidikan anak-anak yang seharusnya menjadi kebutuhan primer untuk menghadapi masa depan dengan pemenuhan bekal pendidikan matang. Selain pendidikan, permasalahan lain yang turut mewarnai kehidupan\ nelayan adalah pemukiman kumuh. Sebagian besar nelayan di Indonesia bermukim di daerah pesisir pantai bahkan daerah yang kurang sehat bagi keluarga.
Sesungguhnya para nelayan pun ingin menempati pemukiman yang layak dan sehat. Namun, apa daya untuk memenuhi kehidupan sehari-hari saja para nelayan negeri ini harus bertarung dengan ganasnya gelombang laut dan ragam gangguan cuaca di lahan profesi tersebut.

   Beberapa realita kehidupan nelayan ini hendaknya menjadi perhatian khusus dari pemerintah untuk membenah persoalan dan mendapatkan win win solution secara perlahan namun pasti untuk mencapai penyelesaian secara maksimal. Perbaikan pemukiman nelayan dengan tempat tinggal layak huni dan pemberian bantuan pendidikan bagi keluarga nelayan dapat menjadi langkah awal penyelesaian problema kehidupan nelayan Indonesia.

Persoalan yang juga menjadi perhatian hangat mengenai nelayan juga tidak terlepas dari penerapan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti No 2 Tahun 2015 mengenai larangan penggunaan alat tangkap ikan jenis pukat hela dan pukat tarik yang dinilai merusak lingkungan laut tanah air. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang dipimpin oleh Susi Pudjiastuti saat ini memang sangat fokus terhadap pemanfaatan Sumber Daya Alam laut yang baik tanpa merusak lingkungan.
Peringatan Hari Pelaut Dunia dapat menjadi motivasi bahwa keberadaan pelaut perikanan sangat berarti bagi kehidupan seluruh masyarakat Indonesia bahkan dunia. Peningkatan kualitas pelaut di tanah air menjadi salah satu hal yang perlu diprioritaskan oleh pihak pemerintah. Terlebih pemerintahan baru periode ke-2 bapak Jokowi-Maruf yang menempatkan salah satu visi besar dimasa pertama untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Sektor kelautan perlu perhatian lebih sebagai salah satu sektor pendukung terwujudnya Indonesia yang sebenar-benarnya merdeka. Tingkat kesejahteraan nelayan seyogyanya mesti mendapat sentuhan solusi tepat dari pemerintah sehingga dapat lebih menopang perekonomian masyarakat terutama nelayan di tanah air tidak harus dimulai dengan hal yang besar, perhatian kecil dapat menjadi sangat berharga terlebih dilakukan panduan dan pantauan serius. Selamat Hari Pelaut Sedunia. Jayalah pelaut kita. Arungi samudera nan luas taklukkan ombak yang menghadang demi masyarakat dunia. Salam maritim dan selamat hari pelaut sedunia.

Jhony Bajo (Sekertaris Kerukunan Keluarga Bajo (Kekar Bajo)  Muna Barat (Mubar).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

2 komentar

  1. Itu merupakan dakkau ilmu buat aku bajo ma, maluku utara
    Kami sama hidup kami mallaumai