oleh

PT. Maa Ataita Indah Dikunjungi Kementrian Kelautan dan Perikanan Di Lokasi Budidaya Lobsternya

Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Balai Besar KIPM Makassar dan Balai Pengembangan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar melaksanakan peninjauan dan verifikasi lapangan terhadap PT. Maa Ataita Indah sebagai calon pembudidaya lobster pada Sabtu (12/8/2020).

Tim Yang hadir dalam peninjauan itu diantaranya Balai pengenbangan budidaya air payau takalar, (Suaib Api dan Ilham Api,
Balai karantina ikan Kendari ibu Kasrida dan Muslimin serta dihadiri pula sepihak Pelabuhan perikanan samudra Kendari (Handoya) dan dari Dinas Kelautan dan perikanan Konawe Selatan (Konsel) pak Musran spi, MP dan penyuluh perikan ibu Tri Yetni Sri Haryiwi S.pi dari Takalar.

Lokasi budidaya lobster yang dikunjungi terletak di desa Ranooha Raya, kecamatan. Moramo Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi Tenggara. Lokasi budidaya tersebut memiliki sirkulasi air yang bagus untuk pertumbuhan lobster. Beberapa aspek yang diverifikasi antara lain ketersediaan benih, sarana dan prasarana serta sumber daya manusia.

Pada kesempatan tersebut, tim verifikasi Kementerian Kelautan dan Perikanan didampingi langsung oleh Komisaris Utama PT. Maa Ataita Indah, H. Vylma Emy Herman yang biasa disapa H. Maa. Menurut H. Maa, PT. Maa Ataita Indah melakukan budidaya sejak lama dibeberapa provinsi.

“Kami budidaya lobster ini sejak 2016 dan alhamdulillah telah beberapa kali berhasil panen hanya selama ini tidak pernah diekspos di media. Beberapa lokasi budidaya yang ada di Sulawesi terbilang sangat berhasil selain di Konsel ini adalah Luwuk, Banggai dan Takalar, ungkapnya.

Sebanyak 13.584 nelayan dari 11 provinsi yang memberikan KTPnya agar didaftar menjadi nelayan mitra PT. Maa Ataita Indah dan masih terus bertambah hingga hari ini, lanjut H. Maa.

Kepala BKIPM Makassar, Sitti Chadidjah, menyampaikan bahwa Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 12 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Lobster, Kepiting dan Rajungan Di Wilayah Negara Republik Indonesia telah mengatur tentang persyaratan budidaya lobster untuk ukuran konsumsi maupun pengeluaran benih bening lobster dengan aturan yang ketat. Salah satunya calon eksportir harus berkomitmen menggunakan benih lobster hanya dari nelayan yang sudah terdaftar.

“Persyaratannya cukup ketat, melalui verifikasi lapangan ini datanya akan kami kirim ke pusat” jelas Sitti.

Ditempat yang sama, Ir. La Kii selaku penanggung jawab di Sultra untuk PT Masa Ataita Indah juga menambahkan melalui PT ini kami punya beberapa harapan, diantaranya memanfaatkan lobster sebagai sumber peningkatan ekonomi, disisi lain kita juga dapat membantu menjamin sumber daya lobster tetap lestari dilaut kita. Dari kedua harapan itu saya kira cukup membantu sebagai anak negri mampu berperan dan berbuat untuk negri tercinta, pungkasnya penuh semangat.

Kami juga akan mengembangkan budidaya lobster disemua pesisir khususnya bagi nelayan Bajo yang memang kesehariannya mayoritas sebagai nelayan, karena program budidaya lobster ini benar-benar sangat menjanjikan untuk kesejahteraan para pelaku, tambahnya.

Target kami di Sultra untuk sementara ini adalah program 1000 keramba, semoga berjalan baik dan lancar yang terpenting adalah kami berharap seluruh pihak terkait mampu bekerjasama dengan baik khususnya para nelayan, tutupnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.